8.25.2017

antara madu dan racun

Heyho!
Assalamu'alaikum~

Topik pembahasan yang panjang kali ini, gue mau ngebahas yang sudah menjadi momok keresahan kaum millenial saat ini. Apakah itu? Yakni "Sosial Media". Kenapa bisa meresahkan? Ada apa? Just read this until the end, yaw! Tapi sebelumnya gue mau kasih tau bahwa gue gak menyerang atau menyindir siapapun. Just wanna share that i want to. Gue mau open-minded terkait hal ini (gayamu cah lanang haha).

Before that, gue mau flashback dulu tentang internet. Gue sendiri kenal internet mulai dari tahun 2008-an, tepatnya waktu gue masih duduk di bangku sekolah dasar. Kita sendiri juga sudah mengetahui internet dari berbagai sumber, misalnya dari mulut ke mulut, terus iklan-iklan mengenai internet dan dunia digital yang lebih canggih mulai bermunculan. Tapi gak secepat, sekeren, dan sehebat sekarang, kalau dulu, internet itu pake modem dan jaringannya lemooottt pake banget!!! Waktu lagi jaman-jamannya Pet Society dan games lainnya di Facebook yang lagi ngehits, gue kesusahan main sanking lamanya gerak dan jalannya ntu games karena literally lemot parah sampai-sampai gue kerjaannya matiin-hidupin modem terus sampai gak lemot lagi haha #nevergiveup.

Gue sih gak bisa pungkiri ya perkembangan internet dan sosial media sekarang yang sudah sebegitu mudah, cepat, hebat dan canggihnya tidak bisa dipikir pake akal sehat lagi *okeinilebay. Semua orang punya hape. Semua orang main sosial media. Semua orang pasti pakai internet. Karena memang ketiganya saat ini sudah menjadi kebutuhan atau food-everyday kita lah. Kita juga gak bisa hidup tanpa hape sama sekali. Gak percaya? Gue kasih challenge deh untuk kalian semua yang sedang baca blog gue untuk tidak pegang handphone kalian selama seminggu! Kalau kalian gak ngumpet-ngumpet tuh mainin hapenya, itu bohong besar deh! Pasti kalian gak bisa nafas deh karena sudah merasa kalau hape itu oksigen kalian.

Sebagian orang menganggap kalo sosial media itu bisa menjadi diary untuk mencurahkan segala kegelisahan yang ada, jadi apa-apa di share (i was like that, weren't you?). Ada juga yang menganggap kalau sosial media itu tempat untuk menghujat orang lain (ini sih sudah keterlaluan ya). Ada juga yang menganggap kalo sosial media itu wadah dia untuk menjadi terkenal, sampai-sampai ada istilah 'selebgram' untuk sebutan artis instagram, 'selebask' untuk sebutan artis ask.fm, 'youtuber' untuk sebutan artis youtube. Ada juga yang menganggap sosial media itu menjadi wadah dia untuk menyalurkan hobinya seperti bikin sesuatu, lalu di share dan dapat dilihat orang banyak di sosial media. Ada juga yang menganggap sosial media itu menjadi ladang pahala bagi orang yang suka sharing tentang ilmu agama. Ada juga yang mengganggap sosial media menjadi tempat ia untuk membuka usaha seperti online shop, that's a good thing! Ada juga karena alasan ikut-ikutan doang punya semuanya, biar gak dikatain kudet. Kalian sendiri termasuk pengguna yang mana, guys? 

Tapi, gue kurang klik sama si pengguna sosial media yang gue sebutin paling awal tadi, yaitu suka sharing tanpa memfilter untuk orang yang melihatnya. Miris sih gue. Maksudnya itu kan lebih ke privacy seseorang ya. Dan sebenernya sih gak sepatutnya atau sepantasnya aja untuk melakukan hal-hal yang sudah melebihi batas. Kesannya kurang enak dilihat orang lain.

Gatau coy. Suka sedih aja sama orang-orang seperti itu. Kan sebenarnya apa yang kita punya, tidak harus dan selalu di share dengan sebegitunya di sosial media, kan? I mean, kasihan lah sama temen-temen kita atau orang-orang yang gak mampu itu melihat apa yang kita punya. Pasti dia iri dan sedih deh. Gue sendiri pun sering merasakan hal itu. Iri dengan apa yang orang lain punya. Sedih karena gak bisa ke tempat-tempat yang pingin di tuju. Okey, i know mungkin maksud mereka gak mau sombong, tapi hati orang siapa tahu, sih? Bohong kalau bilang gak sombong sebenernya, karena secara gak langsung itu sudah termasuk sombong. "Lo nya aja terlalu baper!" "Suka-suka gue lah! Gue ini yang jalanin, kok lo yang repot?!" Gak boleh gitu ya temen-temen, itu egois namanya :) Iya, kita yang melihat memang baper, baper sekali. YA WAJARLAH, namanya juga manusia yang punya perasaan, kalau bukan manusia namanya benda mati dong huhu.

Ya saran gue yang merasakan kesedihan sewaktu melihat orang lagi senang, ya caranya jangan berlarut-larut dalam kesedihan :) kita harus turut senang atas kesenangan orang lain :) harus terus positive thinking dan bersyukur dengan apa yang kita punya karena orang lain gak seberuntung kita :) juga harus terus berusaha dan berdoa dan jadikan motivasi agar kita bisa seperti mereka :) tapi yang sharing kebahagiaan juga memakai perasaan lah :) kita kan gak sama kayak mereka yang apa aja gampang dijabanin :) apa aja bisa di beli :) apa aja bisa punya :) minta tinggal dikasih heuheuheu.

Adanya internet itu gak salah, apalagi sosial media dan juga smartphone. Malah bagus dan memudahkan kehidupan kita. Tapi, sangat disayangkan aja sama orang-orang yang suka mendramatisir sesuatu di sosial media agar "diperhatikan orang banyak" *iykwim. I just talked to myself and i was shouting to my heart "Why you guys like that?! What am i supposed to do?! Did you think first before you share anything?". Lalu yang saya lakukan hanya melihat, berdoa untuk mereka, mencoba mengerti, dan memahami tanpa bertanya ke si pengguna.

Selain itu, gue juga gak habis fikir sama pengguna sosial media yang punya tradisi mencaci atau memaki dengan begitu mudahnya dan sudah menjadi kebiasaan yang melekat sekali di jaman sekarang ini. Dan juga, sanking gak ada kerjaan, mereka suka mengurusi kehidupan orang lain dengan komentar-komentar negatif yang sangat menyakiti hati si korban. Gak kayak orang dulu yang hidupnya masa peduli amat dengan hidup orang lain, tapi kalau lagi kesusahan, dengan sigap membantu sesama. Ini sekarang teh malah terbalik! Kumaha eta-_- Suka kesel gitu. Sedih juga. Faedahnya apa. Maksudnya apa. Merasa dirimu yang paling benar dengan mencaci-maki orang lain? *inhaleexhale. Bikin sedih orang, iya. Dapat dosa, pasti. 

Akan tetapi, kalian yang menjadi korban hujatan atau bullyan orang lain tenang saja. Semua akan ada balasannya dan kita juga dapat pahala dari orang yang menghujat kita. Dan obatnya cuman satu! You have to get closer with God, it's a must! Mungkin itu juga cara Allah supaya kita dekat dengan lagi dengan-Nya, keep positive thinking sajo hehe.

Jangan langsung musuhin gue ya gais, ini gue menyampaikan apa yang sudah menjadi keresahan gue dan banyak orang lain rasakan juga loh. Dan gue juga berharap kedepannya kita bisa menjadi pengguna hape, internet, dan sosial media dengan baik dan bijaksana, aamiin :)) #peaceandlove

Jadi, saran gue, jadilah pengguna internet, hape, dan sosial media dengan baik, cerdas, bijak, tidak berlebihan dan hati-hati sekali, serta memikirkan perasaan orang lain. Memfilter sesuatu atau berfikir sebelum bertindak agar kita sama-sama enak dan tiada dusta diantara kita #tsah.

Gue ada 2 kutipan yang gue ambil dari Gita Savitri yaitu seorang Youtuber dan Blogger yang sudah menginspirasi banyak orang :


"Kalau lo gak kuat mental, bisa-bisa empati lo bisa hilang, hati nurani lo juga bisa hilang, nilai-nilai yang lo tanamin dari orang tua, agama, dan guru lo bisa hilang, karena apa? Karena sosial media! Kenapa? Karena sosial media itu racun yang mematikan yang bisa bikin orang iri hati sama apa yang lo punya, karena sosial media pula, hasrat untuk mencaci dan menghujat ke orang lain sudah menjadi tradisi yang biasa aja"
"Lama-lama kita gak punya hati karena kelamaan kena radiasi hape"
- Gita Savitri Devi -

Baidewei, terima kasih untuk kalian yang sudah membaca edisi blog kali ini sampai habis, karena it's really mean to me heuheu (: Maafin juga kalau ada salah-salah kata

en

Wassalamu'alaikum!

8.15.2017

saatnya berubah!

Hola~~
Assalamu'alaikum!

Gue seneng pake banget karena alhamdulillah masih bisa menyempatkan waktu luang gue untuk sharing lagi bersama para pembaca blog gue yang sebenernya-masih-gak-jentrungan-apakah-isi-blog-ini tetapi alhamdulillah masih mau baca (semoga). Anggap aja anda sedang menghadapi orang yang sedang berbincang seru yah. 

By the way, gue mau basa-basi dulu sama pembaca baru blog ini. Welcome and enjoy these kind of my random blog! Isinya macem-macem, apa aja bisa dibahas di sini. Edisi postan selanjutnya bakal ngebahas tentang topik seru dan hangat yang belum memanas haha. Pokok'e semoga blog ini berfaedah ya kalo kata anak jaman sekarang dan setidaknya ada yang bisa dipahami deh kata-kata gue ini.

Bagi anda-anda yang pernah membaca blog ini, mungkin anda tidak menyadari bahwa ada atau banyak perubahan atau revisi yang terjadi dalam blog gue ini. Misalnya, as you can see aja dari namanya yang lebih beken bak anak kekinian yang gak mau ketinggalan jaman haha.

Terus, bahasa yang gue pake juga beda. I used to being so normal person menggunakan kata-kata 'aku-kamu'. But, right now i want to be person who show you as real i am like using kata-kata 'gue-lo'. Why though? Yak karena gue mengganggap kalian semua yang membaca blog ini menjadi temen gue (even yang baca ini orang yang lebih tua) yang bisa gue sharing ke kalian dan juga gak kaku-kaku amat lah.

For your info, blog gue ini alhamdulillah udah ada lebih dari 4 tahun sejak tahun 2013 pas baru lulus SMP waktu lagi gabut-gabutnya gak ada kerjaan dan udah gak berasa banget karena dulu emang bikin blog karena iseng dan juga suka nulis-nulis gitu dari dulu. Tapi, kekurangannya ya itu, blog ini bisa dibilang rada terbengkalai karena gue juga jarang nulis atau sharing lagi di blog ini bikos bingung coy apa yang mau dan harus di bahas haha. Dan yang paling penting juga, yang membacanya pun tidak begitu banyak karena juga sedikit peminat #sedih. But now, gue punya banyak bahan untuk gue bahas di postan selanjutnya. STAY TUNE TERUS YA POKOKNYA!!!!!! Doakan semoga saya ada waktu nantinya dan yang terpenting kemalesan-gerak ini tidak merajalela sampe gue mengurungkan niat gue untuk sharing ke kalian.

Oyah, kalo flashback lagi ke postan lama blog gue, gue jadi pengen ngakak sendiri. Karena i used to being alay bin lebay person banget dan diriku jadi terheran-heran sendiri kenapa bisa begitu (now playing: Eta Terangkanlah). Tapi, bersyukur juga karena kalo gak begitu, gue gak seperti sekarang yang bisa lebih memikirkan pilihan yang ada #tsah. Kalian juga bisa mampir dan baca kok ke postan gue yang jauh sebelum-sebelumnya pada waktu zaman baheula heuheuheu.

Yak itu aja sih yang pengen gue sampaikan. Jangan bosen-bosen visit blog iki yaaa. Kalo boleh, minta komenannya juga biar ada feedbacknya untuk saya sebagai penulis hehe.

Maafkan kalo kata-kata gue ini rada susah dimengerti. Nanti lama-lama juga terbiasa kok haha.

See ya on my next post!

And stay tune!

Wassalamu'alaikum~


"Gak ada salahnya dengan perubahan, asal hal tersebut yang membuat diri kita jauh lebih baik daripada sebelumnya. Yang salah itu kalau kita terlalu enak menikmati hal-hal yang sudah ada dan lebih memilih untuk diam tak menentu, seperti mengikuti arus ombak." -merah-

8.13.2017

malam yang penuh sesak

dear life

kadang hidup ini tidak selalu berpihak kepadaku
tapi itu bukan berarti aku harus menyerah, kan?
aku masih bisa tersenyum di masa-masa tergentingku saja sudah sangat bersyukur

di suatu malam yang teramat macet
ditemani bapak tua berkacamata tebal dengan jaket ojek online andalannya yang sudah lusuh, kusam, dan pudar warnanya
juga ditemani oleh malamnya kota, kelap-kelip lampu ibu kota, juga polusi udara sambil duduk di jok motor belakang dengan helm yang terpasang di kepalaku

aku diam penuh harap bahwa masih menemukan cahaya dari secercah harapan
terlebih untuk Indonesia ku yang ku cinta
terlebih untuk Jakarta ku, ibukota penuh kekejaman yang selalu menjadi dambaan semua orang
terlebih lagi untuk diriku yang lemah tak berdaya dan bergelimang dosa

dan terakhir
ku ingin panjatkan doa teruntuk para bapak ojek online yang berjasa sekali dalam kelangsungan hidup saya
semoga para bapak ojek online yang tak pernah lelah dan mengeluh walau dalam kondisi hujan dan panas tetap beraksi, selalu dalam lindungan Nya serta dapat hidup dengan layak, aman, dan nyaman di masa tuanya, aamiin.






Djakarta, 12 Agoestoes 2017
Created by merrah